21.831 Pohon Ditanam Upaya Menjaga Biodiversitas Megamendung Terus Berlanjut (39)
JAKARTA – Upaya menjaga biodiversitas di Bentang Alam Megamendung, Kabupaten Bogor, terus diperkuat melalui pendekatan konservasi jangka panjang. Paseban Foundation mencatat telah menanam lebih dari 21.831 pohon dari berbagai jenis lokal, sekaligus memperluas kerja sama lintas sektor untuk menjaga kawasan yang menjadi bagian dari Cagar Biosfer Cibodas tersebut.Kerja konservasi itu tidak hanya diarahkan pada pemulihan habitat dan perlindungan keanekaragaman hayati. Paseban Foundation juga mengembangkan perannya sebagai penghubung antara pengalaman konservasi di lapangan dengan kegiatan penelitian, pendidikan, dokumentasi, serta penyebarluasan pengetahuan kepada publik.

Pendiri sekaligus Pembina Paseban Foundation, Andy Utama, mengatakan, lembaga tersebut sejak awal dibangun sebagai wadah agar kerja konservasi dapat berlangsung secara berkelanjutan dan tidak bergantung pada satu individu maupun satu generasi.

Menurut Andy, menjaga suatu bentang alam membutuhkan waktu panjang. Karena itu, selain kerja lapangan, diperlukan kelembagaan yang mampu mempertemukan pemerintah, akademisi, dunia usaha, organisasi konservasi, lembaga internasional, masyarakat sipil, hingga generasi muda.

“Pada akhirnya kita semua akan kembali. Karena itu, pekerjaan ini harus memiliki penerus. Konservasi membutuhkan endurance dan harus diwariskan kepada generasi berikutnya,” kata Andy.

Konservasi Dibangun sebagai Kerja Lintas Generasi

Gagasan tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam Paseban Foundation Annual Dinner 2026 yang diselenggarakan bertepatan dengan Hari Konservasi Alam Nasional dan peringatan dua tahun berdirinya Paseban Foundation.

Acara bertema “Partnership in Cultivating and Stewarding the Biosphere Reserve” itu mempertemukan perwakilan Kementerian Kehutanan, Kementerian Komunikasi dan Digital, Kedutaan Besar Inggris, FAO, UNESCO, UNDP, DPR RI, akademisi, organisasi konservasi, dunia usaha, filantropi, masyarakat sipil, tokoh budaya, tokoh publik, serta generasi muda.

Kehadiran beragam unsur tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan Bentang Alam Megamendung tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga secara sendiri. Kawasan ini merupakan bagian dari sistem ekologis yang terhubung dengan Cagar Biosfer Cibodas, sehingga perlindungannya membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

Paseban Foundation pun tidak menempatkan dirinya sebagai pusat seluruh kegiatan konservasi. Lembaga itu lebih diarahkan menjadi ruang pertemuan bagi berbagai pihak yang memiliki kewenangan, pengetahuan, sumber daya, dan keahlian berbeda untuk bekerja pada tujuan ekologis yang sama.

Pendekatan tersebut sejalan dengan gagasan konservasi Megamendung lintas generasi, yakni memastikan perlindungan bentang alam tidak berhenti ketika sebuah program selesai atau terjadi pergantian figur penggerak.

21.831 Pohon dan Perlindungan Habitat Megamendung

Peran sebagai penghubung kolaborasi tersebut dibangun dari pengalaman konservasi yang dijalankan secara langsung di lapangan.

Dalam kegiatan konservasi in-situ, Paseban Foundation melakukan perlindungan habitat, restorasi ekosistem, pemantauan biodiversitas, serta penanaman lebih dari 21.831 pohon yang berasal dari beragam jenis lokal.

Catatan mengenai penanaman 21.831 pohon untuk menjaga biodiversitas Megamendung menjadi salah satu gambaran mengenai skala upaya pemulihan ekosistem yang terus dilakukan di kawasan tersebut.

Selain konservasi in-situ, Paseban Foundation menjalankan program konservasi ex-situ melalui penangkaran nonkomersial burung dan mamalia. Program tersebut antara lain telah menghasilkan tiga anak rusa.

Pemantauan keanekaragaman hayati juga dilakukan melalui survei lapangan, observasi langsung, serta pemasangan kamera jebak atau camera trap. Metode tersebut digunakan untuk memperoleh gambaran mengenai satwa yang masih bertahan di Bentang Alam Megamendung.

Lima Spesies Primata Jawa Terdeteksi

Executive Director Paseban Foundation, Wahdi Azmi, mengatakan, hasil pemantauan menunjukkan lima spesies primata Jawa masih dapat ditemukan dalam satu bentang alam yang relatif kecil di kawasan Megamendung.

Temuan tersebut dinilai penting karena Pulau Jawa menghadapi tekanan tinggi akibat kepadatan penduduk, pembangunan, serta perubahan penggunaan lahan.

“Jawa adalah pulau dengan kepadatan penduduk tertinggi di Indonesia, sebuah lanskap yang sangat didominasi manusia. Namun, di Megamendung, kelima spesies primata yang masih tersisa di Pulau Jawa telah kami konfirmasi keberadaannya,” ujar Wahdi.

Selain primata, Bentang Alam Megamendung juga menjadi habitat berbagai jenis flora dan fauna pegunungan tropis. Beberapa satwa penting yang tercatat berada di bentang alam tersebut antara lain Elang Jawa dan Macan Tutul Jawa.

Keberadaan satwa-satwa itu menunjukkan bahwa Megamendung masih menyimpan nilai biodiversitas penting meskipun berada tidak jauh dari kawasan dengan tekanan aktivitas manusia yang tinggi.

Data Lapangan Diolah Menjadi Pengetahuan

Paseban Foundation selanjutnya berupaya memastikan bahwa pengalaman konservasi tidak berhenti pada kegiatan perlindungan habitat.

Data, temuan, dokumentasi, serta pembelajaran dari lapangan diolah menjadi pengetahuan yang dapat dimanfaatkan untuk penelitian, pendidikan, komunikasi publik, advokasi, penguatan kapasitas, hingga mendukung proses pengambilan keputusan.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya Paseban Foundation membangun dirinya sebagai knowledge institution atau lembaga pengetahuan yang menghubungkan praktik konservasi dengan produksi dan penyebarluasan informasi.

Salah satu langkahnya ditandai dengan peluncuran buku “Lens Chronicle 1: Biodiversity of Paseban” dan “Kepemimpinan Bentang Alam”, serta pemutaran perdana film dokumenter “The Silent Resilience”.

Survei biodiversitas, penelitian, dokumentasi, penerbitan buku, produksi film, pendidikan, dan pengelolaan pengetahuan ditempatkan dalam satu rangkaian. Tujuannya agar pengetahuan yang diperoleh dari lapangan tidak hanya tersimpan untuk kepentingan internal, tetapi juga dapat diakses dan dipahami masyarakat yang lebih luas.

Pendiri sekaligus Pembina Paseban Foundation, Andy Utama, menyampaikan bahwa penguatan fungsi tersebut sejalan dengan visi Paseban sebagai wadah kolaborasi lintas sektor yang menghubungkan pengalaman konservasi di lapangan dengan produksi serta penyebarluasan pengetahuan.

Nezar Patria: Data Konservasi Perlu Masuk Percakapan Publik

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria yang hadir dalam kegiatan tersebut mengapresiasi konsistensi kerja konservasi yang dilakukan Paseban Foundation.

Menurut Nezar, data yang diperoleh dari kegiatan lapangan memiliki nilai penting apabila dapat diolah, diterjemahkan, dan disebarluaskan sehingga menjadi bagian dari percakapan publik.

Ia menilai pengetahuan mengenai biodiversitas tidak cukup hanya dimiliki oleh para peneliti atau pegiat konservasi. Informasi tersebut juga perlu dikomunikasikan kepada masyarakat agar pemahaman mengenai pentingnya menjaga ekosistem semakin luas.

Nezar juga melihat Paseban Foundation memiliki potensi untuk menjadi sebuah hub yang mempertemukan berbagai inisiatif dan kekuatan untuk mendukung pelestarian Cagar Biosfer Cibodas.

Dengan posisi tersebut, pengalaman yang diperoleh dari lapangan dapat dipertemukan dengan kemampuan pemerintah, lembaga internasional, akademisi, dunia usaha, serta kelompok masyarakat dalam membangun kerja konservasi yang lebih terintegrasi.

Generasi Muda Jadi Bagian Penting Konservasi

Aspek regenerasi turut menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut.

Mewakili Kementerian Kehutanan, Indra Exploitasia menilai keberlanjutan konservasi membutuhkan generasi berikutnya yang siap mengambil peran. Menurut dia, transfer pengalaman dan pengetahuan penting dilakukan sejak sekarang karena generasi yang saat ini bekerja di bidang konservasi tidak akan selamanya berada pada posisi yang sama.

“Yang sudah senior ini sebentar lagi akan purna tugas. Karena itu, dibutuhkan generasi muda untuk mengambil alih tugas dan melanjutkan pekerjaan ini untuk masa depan,” ujarnya.

Keterlibatan generasi muda tidak hanya dibutuhkan sebagai penerus kegiatan lapangan, tetapi juga untuk membawa pendekatan baru dalam penelitian, pendidikan, teknologi, komunikasi publik, serta pengelolaan pengetahuan konservasi.

Bentang Alam Tak Mengenal Batas Administrasi

Penasihat Paseban Foundation, Wiratno, menilai kebutuhan akan kolaborasi juga tidak dapat dilepaskan dari karakter sebuah bentang alam.

Menurut dia, ekosistem tidak bekerja berdasarkan batas administratif. Air, hutan, satwa liar, masyarakat, kawasan permukiman, hingga kegiatan ekonomi saling berhubungan dalam satu sistem.

Karena itu, pengelolaan bentang alam tidak cukup apabila dilakukan secara sektoral dan terpisah-pisah.

“Kepemimpinan bentang alam bukanlah tentang memimpin satu institusi, melainkan tentang menyatukan dan mengolaborasikan berbagai pihak untuk menjaga satu ekosistem yang sama,” kata Wiratno.

Pendekatan kepemimpinan bentang alam tersebut menjadi relevan bagi Megamendung karena kawasan ini menghadapi beragam kepentingan sekaligus, mulai dari konservasi, permukiman, aktivitas masyarakat, pariwisata, hingga kebutuhan menjaga fungsi ekologis kawasan pegunungan.

Konservasi Tidak Boleh Berhenti pada Satu Figur

Paseban Foundation melihat perlindungan biodiversitas Megamendung sebagai pekerjaan jangka panjang. Penanaman puluhan ribu pohon, pemantauan satwa, perlindungan habitat, penelitian, dokumentasi, dan pengembangan pengetahuan merupakan bagian dari proses yang harus terus dilanjutkan.

Karena itu, salah satu tantangan terbesarnya bukan hanya menjalankan program konservasi, melainkan memastikan terdapat sistem yang mampu menjaga kesinambungan pekerjaan tersebut.

Kerja konservasi pada akhirnya tidak boleh berhenti pada satu program, satu institusi, satu figur, maupun satu generasi.

Melalui kolaborasi lintas sektor, pengelolaan pengetahuan, dan regenerasi, Paseban Foundation berupaya membangun fondasi agar perlindungan Bentang Alam Megamendung dan biodiversitas Cagar Biosfer Cibodas dapat terus berlangsung dalam jangka panjang.