BOGOR — Perubahan pemanfaatan lahan menjadi permukiman dan vila di sekitar Hutan Paseban menjadi perhatian dalam pelestarian habitat burung di Megamendung, Kabupaten Bogor. Kawasan hutan tersebut digunakan burung migran untuk bermalam sebelum meneruskan perjalanan.
Direktur Konservasi Yayasan Paseban, Ady Kristanto, menjelaskan bahwa keberadaan habitat yang masih terjaga perlu diperhatikan. Pendataan jenis burung yang singgah di Hutan Paseban, menurut dia, dapat menjadi acuan bagi aksi konservasi berikutnya.
Perhatian terhadap habitat berjalan bersama dorongan perlindungan burung liar melalui kebijakan daerah. Yayasan Paseban mengusulkan surat edaran larangan berburu burung kepada Gubernur Jawa Barat, sekaligus mendorong penyusunan peraturan desa untuk melindungi satwa dan habitatnya.
Hutan Menyediakan Tempat Istirahat dan Makanan
Ketua Burung Indonesia, Dian Agista, menekankan bahwa keselamatan burung migran memerlukan dukungan ekosistem yang memadai. Dalam perjalanan migrasi, burung membutuhkan tempat untuk mencari makan dan beristirahat.
“Tanpa habitat, tanpa ekosistem yang memadai, itu tidak akan terjadi secara utuh. Jadi memang diperlukan alam yang terjaga,” kata Dian.
Persoalan habitat juga disampaikan Penasihat Yayasan Paseban, Wiratno. Ia menyoroti posisi Megamendung di zona transisi Cagar Biosfer Cibodas dan pentingnya restorasi hutan, terutama ekosistem pegunungan pada ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut.
Pengembangbiakan burung endemik Jawa dan rusa Timor menjadi bagian dari program Yayasan Paseban. Yayasan juga menjalankan pembibitan 10.000 pohon langka yang ditemukan di Pulau Jawa, dalam rangkaian upaya pelestarian yang berkaitan dengan konservasi burung di Jawa Barat.
Data Lapangan Dikumpulkan lewat Pengamatan Migrasi
Yayasan Paseban bersama Burung Indonesia dan Raptor Indonesia (RAIN) menggelar Megamendung Bird Migration Watch 2026 pada 16–18 Oktober 2026. Kegiatan tersebut mencatat burung migran yang melintasi dan singgah di kawasan Megamendung.
Terdapat 915 pengamatan terhadap tiga jenis raptor migran, terdiri atas 828 pengamatan elang-alap Cina, 76 sikep-madu Asia, serta 11 elang-alap Nipon. Jumlah itu merupakan catatan pengamatan, bukan jumlah individu berbeda yang telah dipastikan.
Pengamat juga mendata 47 jenis burung lokal dan berbagai jenis amfibi serta reptil. Dua raptor penghuni kawasan yang terlihat ialah elang-ular bido dan elang Jawa.
Ketua Raptor Indonesia, Zaini Rakhman, berharap pengamatan dapat berlangsung setiap tahun untuk membantu pemetaan pergerakan burung. Menurut dia, burung pemangsa umumnya memanfaatkan arus udara panas atau thermal ketika bermigrasi pada siang hari.
Rangkaian acara turut mencakup diskusi dan edukasi mengenai jalur migrasi global serta pengenalan burung pemangsa. Yayasan Paseban juga menandatangani dua perjanjian kerja sama dengan Burung Indonesia dan Cikananga Wildlife Center.







