Home Andy Utama Ribuan Pohon dan Satwa Dilindungi, Megamendung Jadi Model Konservasi Andy Utama

Ribuan Pohon dan Satwa Dilindungi, Megamendung Jadi Model Konservasi Andy Utama

16
Andy Utama Dorong Megamendung Menjadi Pusat Konservasi Alam Berbasis Ekologi

BOGOR — Di kawasan hulu Bogor, Megamendung tidak lagi hanya dibaca sebagai ruang hijau penyangga kawasan Puncak. Di tangan Yayasan Paseban yang dibina Andy Utama, bentang alam itu perlahan dipulihkan menjadi ruang konservasi yang mempertemukan penanaman pohon, perlindungan satwa, pendidikan lingkungan, hingga pemberdayaan masyarakat.

Perhatian terhadap Lanskap Megamendung menguat setelah Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) meresmikan Lembah Aviary Paseban, Penangkaran Rusa Timor, serta melepasliarkan dua ekor Elang Jawa di kawasan tersebut. Informasi ini sebelumnya diberitakan iNewsBandungRaya.id, Selasa, 9 Juni 2026.

Peresmian dilakukan Menteri Kehutanan Republik Indonesia yang diwakili Direktur Jenderal KSDAE, Prof. Dr. Setyawan Pudyatmoko. Agenda tersebut menjadi bagian dari penguatan konservasi berbasis bentang alam, yakni pendekatan yang tidak hanya menempatkan satwa sebagai objek perlindungan, tetapi juga memulihkan habitat, menjaga sumber air, membuka ruang riset, dan melibatkan masyarakat sekitar.

Megamendung sebagai Ruang Pulih Satwa dan Hutan

Dua individu Elang Jawa bernama Agni dan Beta dilepasliarkan ke habitat alaminya di Lanskap Megamendung. Pelepasliaran ini penting karena Elang Jawa merupakan satwa endemik Pulau Jawa sekaligus salah satu spesies prioritas dalam program konservasi nasional.

Di luar pelepasliaran Elang Jawa, peresmian Lembah Aviary Paseban dan Penangkaran Rusa Timor menjadi penanda bahwa konservasi di Megamendung bergerak dalam dua jalur sekaligus: perlindungan satwa di habitat alaminya dan penguatan fasilitas konservasi ex-situ. Keduanya diposisikan sebagai bagian dari ekosistem pendidikan lingkungan, penelitian, dan pemulihan populasi satwa liar.

Yayasan Paseban mengembangkan kawasan ini dengan pendekatan yang menyatukan pelestarian keanekaragaman hayati, pemulihan ekosistem, pertanian organik, pendidikan lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat. Dengan cara itu, konservasi tidak berhenti pada seremoni penanaman atau pelepasan satwa, tetapi dibangun sebagai kerja panjang yang menyentuh tanah, air, vegetasi, dan kehidupan warga di sekitarnya.

Pembina Yayasan Paseban, Andy Utama: “Kami memiliki cita-cita untuk turut berkontribusi mengembalikan Megamendung sedekat mungkin dengan kondisi ekologisnya seperti dahulu. Kami ingin memperkuat habitat satwa liar, menjaga sumber air, dan mewariskan bentang alam yang lebih baik bagi generasi mendatang”.

Menurut Andy, gerakan konservasi tersebut berangkat dari praktik pertanian organik yang telah dirintis sekitar 16 tahun lalu. Dari sana, gagasan pemulihan kawasan berkembang lebih luas, melampaui urusan produksi pangan, dan masuk ke agenda pemulihan bentang alam yang lebih utuh.

Ribuan Pohon Ditandai, Dipetakan, dan Dirawat

Sejak Hari Konservasi Alam Nasional atau HKAN 2024, Yayasan Paseban bersama berbagai mitra melakukan penanaman pohon secara berkelanjutan di kawasan Megamendung. Hingga kini, tercatat 21.831 pohon dari lebih 200 jenis telah ditanam, dipetakan, dan ditandai.

Angka itu menunjukkan bahwa kerja konservasi di Megamendung tidak hanya mengandalkan jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga sistem pendataan. Pohon-pohon tersebut dipetakan dan diberi penanda sebagai bagian dari upaya memastikan pemulihan ekosistem dapat dipantau, dirawat, dan dievaluasi dari waktu ke waktu.

Dalam konteks kawasan hulu, penanaman pohon memiliki arti strategis. Vegetasi berperan menjaga tata air, memperkuat tanah, menyediakan pakan dan ruang hidup satwa, sekaligus menjaga keseimbangan ekologis wilayah yang terhubung dengan kawasan konservasi lain di Jawa Barat.

Dirjen KSDAE Prof. Setyawan Pudyatmoko mengapresiasi kolaborasi yang dibangun Yayasan Paseban bersama pemerintah daerah, Perum Perhutani, akademisi, dan masyarakat. Menurut dia, model pengelolaan di Megamendung memperlihatkan bagaimana konservasi in-situ dan ex-situ dapat berjalan terpadu dalam satu bentang alam.

Konservasi in-situ merujuk pada perlindungan satwa dan tumbuhan di habitat alaminya. Sementara itu, konservasi ex-situ dilakukan melalui fasilitas khusus di luar habitat asli, seperti penangkaran atau aviary, untuk mendukung perlindungan dan pemulihan populasi. Di Megamendung, dua pendekatan itu dirangkai dalam satu agenda besar pemulihan ekologi.

Terhubung dengan Cagar Biosfer Cibodas

Lanskap Megamendung memiliki posisi penting karena menjadi bagian dari bentang alam yang terhubung dengan Cagar Biosfer Cibodas yang diakui UNESCO. Keterhubungan ini menjadikan Megamendung bukan sekadar kawasan lokal, melainkan simpul ekologis yang berperan dalam menjaga keanekaragaman hayati Pulau Jawa.

Kawasan tersebut menjadi habitat berbagai satwa penting, antara lain Elang Jawa, Owa Jawa, Surili Jawa, Lutung Jawa, Trenggiling Sunda, serta beragam jenis burung hutan. Kehadiran satwa-satwa itu memperlihatkan bahwa pemulihan habitat di Megamendung memiliki dampak langsung terhadap keberlanjutan kehidupan liar di kawasan hulu Bogor.

Dalam konteks ini, pengembangan Lembah Aviary Paseban dan Penangkaran Rusa Timor Megamendung menjadi bagian dari kerja konservasi yang lebih luas. Fasilitas tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ruang perlindungan satwa, tetapi juga sebagai sarana edukasi agar publik memahami hubungan antara habitat, pohon, air, dan keberlangsungan satwa liar.

Kolaborasi lintas pihak menjadi kunci dalam agenda ini. Pemerintah, pengelola kawasan, akademisi, masyarakat, dan inisiatif warga seperti Yayasan Paseban bertemu dalam satu kepentingan: menjaga agar Megamendung tetap memiliki daya dukung ekologis di tengah tekanan perubahan lahan dan kebutuhan pembangunan.

Dengan 21.831 pohon dari lebih 200 jenis yang telah ditanam, pelepasliaran Elang Jawa Agni dan Beta, serta penguatan fasilitas konservasi satwa, Megamendung sedang dibangun sebagai laboratorium hidup konservasi. Di tempat ini, pemulihan alam tidak diperlakukan sebagai slogan, tetapi sebagai kerja yang menuntut ketekunan, data, kolaborasi, dan keberpihakan pada masa depan bentang alam hulu Bogor.